Suatu
sore, menjelang magrib, sebuah sepeda tua meluncur dari tikungan ujung jalan.
Sepeda itu menuju sebuah rumah mungil. Seorang laki-laki muda dengan senyum
khasnya turun dari sepeda itu sembari membuka topinya, menunjukkan rambut hitam
yang terselip beberapa uban. Tiga anak perempuan yang belum sekolah dengan
girang menghampiri pria itu. Tampak mereka merengek menanyakan sesuatu.
“Bapak
bawa oleh-oleh apa?”
Tepat
sebelum matahari hampir terbenam, pria itu telah sengaja menghentikan perjalanannya
di sebuah persawahan bekas tanaman padi. Tanah tidur selepas panen padi di
musim kemarau selalu ditumbuhi tanaman perdu “ciplukan”. Tanaman ini memiliki
buah kecil serupa ceri yang manis. Pria itu telah mengambil beberapa buah
(hampir satu kresek hitam kecil) untuk dibawa pulang. Tidak lain, buah itu akan
dijadikannya oleh-oleh untuk anak-anaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar