Minggu, 24 April 2016

Cinta yang tulus

Dua bulan sudah sejak kakakku melahirkan seorang bayi mungil yang cantik. Saat ini, kakakku harus kembali bekerja dan meninggalkan bayinya pada ibu kami untuk mengurusnya. Bayi itu sangat kurus dan kecil. Lebih kecil dari bayi seusianya.

Setiap hari ibuku selalu merawatnya, memandikannya, membuatkannya susu formula, mengganti popoknya, menenangkannya saat menangis dan masih banyak lagi. Ia selalu memanggil bayi itu dengan sebutan “sayang” dan  “cantik”. Sebulan kemudian, bayi itu mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Dalam waktu sebulan beratnya bertambah 2 kg sekaligus. Padahal dua bulan pertama setelah kelahirannya, bayi itu sakit-sakitan dan lemah.

Aku menyimpulkan sendiri, bahwa seorang bayi akan tumbuh dengan cinta dan kasih sayang. Mereka tidak pernah memilih siapa. Tetapi mereka akan menerima siapapun yang datang dengan cinta yang tulus. Dan ketulusan cinta ibuku, telah membuatnya tumbuh pesat dan sehat. Dua tahun kemudian, bayi itu telah tumbuh menjadi anak kecil yang sehat, pintar dan aktif melebihi anak-anak seusianya.

Sabtu, 23 April 2016

Ayah, ini sepenggal kisah bersamamu !!!

Suatu sore, menjelang magrib, sebuah sepeda tua meluncur dari tikungan ujung jalan. Sepeda itu menuju sebuah rumah mungil. Seorang laki-laki muda dengan senyum khasnya turun dari sepeda itu sembari membuka topinya, menunjukkan rambut hitam yang terselip beberapa uban. Tiga anak perempuan yang belum sekolah dengan girang menghampiri pria itu. Tampak mereka merengek menanyakan sesuatu.

“Bapak bawa oleh-oleh apa?”

Tepat sebelum matahari hampir terbenam, pria itu telah sengaja menghentikan perjalanannya di sebuah persawahan bekas tanaman padi. Tanah tidur selepas panen padi di musim kemarau selalu ditumbuhi tanaman perdu “ciplukan”. Tanaman ini memiliki buah kecil serupa ceri yang manis. Pria itu telah mengambil beberapa buah (hampir satu kresek hitam kecil) untuk dibawa pulang. Tidak lain, buah itu akan dijadikannya oleh-oleh untuk anak-anaknya.

Tiga anak kecil itu pun segera mengerumuni kresek hitam itu dengan penuh keceriaan. Demi sebuah senyum, apapun bisa dijadikan “alat” oleh seorang ayah, meski hanya berwujud buah dari tanaman perdu yang terabaikan. Ayah selalu punya cara.