August, hari berganti nama menjadi esok tanpa bekas. malam terlewati diantara lelah dan payah, mungkin juga malas untuk sekedar bangun menghirup malam di balik tetesan air wudlu. aku menyesal, menyesali hari-hari yang hampa terlampaui tanpa angin sepoi-sepoi meniup ujung telingaku. aku, masih saja di sini, sedangkan mereka yang dulu kukenal sebagai teman telah lebih dulu jauh berjalan.
Aku, aku masih saja di sini. namun tak urung langkah kaki kuayun menuju peradaban cahaya terang. walau terkadang cahaya itu begitu silau hingga tak bisa kubedakan mana dunia, mana fana, mana nyata. ambisi, citacita atau apalah kalian menyebutnya, bagiku hidup adalah cukup. tapi hidup saja tidak cukup. aku ingin bahagia. sebagaimana para pendahulu yang mencari bahagia melalui mati syahid, aku pun juga ingin meraihnya. ketika para ustadz dan ahli ilmu agama menyerukan tauhid, bahwa hanya Allah yang akan menolong kita dan membalas semua amal baik/buruk kita. aku percaya, sungguh. meskipun beberapa orang berfikir bahwa dakwah itu adalah menyeru pada orang lain, namun bagiku dakwah itu adalah keinginanku menuju syurga bersama orang-orang yang kucintai.
Membahagiakan mereka di dunia selagi bisa, selagi mampu, selagi muda, selagi mereka masih hidup, selagi aku masih hidup. aku tak punya banyak waktu, sedangkan pokok pohon itu semakin menua. aku tak punya banyak waktu untuk bermain dan bersendaugurau. meski kadang pilihanku adalah salah karena aku menjadi tak mengenal dunia di sekelilingku.
Dua tahun sudah terlampaui. aku ingin kembali merasakan angin sepoi-sepoi menjelang subuh. aku ingin kembali berimaji ayat-ayat suci yang diturunkan Tuhan yang Esa. aku ingin kembali di sela-sela musim dingin agustus.. aku ingin kembali setelah sakit yag begitu lama. aku ingin kembali menyambut musim semi yang menumbuhkan dedaunan hijau dan bunga-bunga merah jambu miliki pokok phon tua itu :D